Minggu, 30 Oktober 2011

Mesjid Kuning, Tidak Banyak Diketahui Warga

AL –Osmani mesjid pertama dan tertua peninggalan budaya Melayu Deli. Masjid ini merupakanan salah satu sejarah Sumatera Utara yang belum banyak di ketahui warga kota Medan.
                Sumatera Utara memiliki beragam peninggalan sejarah dan budaya yang unik. Baik dari masa prasejarah maupun sejarah. Peninggalan sejarah berupa tulisan, bangunan kuno tidak terlepas dari perkembangan agama maupun bentuk kolonial yang ada di Medan. Sejarah kota Medan berdasarkan urutan waktu meliputi sejarah masa Hindu-Budhda, Islam, kolonial dan prasejarah.
                Sejarah perkembangan agama Islam yang panjang di Medan meninggalkan beberapa tempat bersejarah yang masih dapat dilihat sampai saat ini. Peninggalan sejarah Islam di tandai dengan berdirinya kerajaan-kerajaan Islam di Medan yang dahulunya dikenal dengan sebutan kesultanan di Sumatera Timur. Selain istana kerajaan/ kesultanan,  di bangun pula masjid sebagai tempat beribadah para penghuni istana.

                Masing –masing kesultanan meninggalkan jejak peradaban masa lampau berupa masjid yaitu Mesjid Raya AL- Osmani dan masjid Raya AL- Mashun, kesultanan Langkat meninggalkan Mesjid Azizi dan yang terakhir kesultanan Serdang menigglakan Mesjid Sulaiman.
                Pukul 19.10 wib, Rabu (26/10) lalu, terlihat ada lima orang tua yang duduk asyik di teras masjid sambil ngobrol-ngobrol untuk menunggu waktu shalat Isya’, terlihat dinding- dinding bangunan masjid yang berwarna kuning dan hijau sangat mendominasi, disisi lain masjid ini memiliki arsitektur bangunan asli yang merupakan perpaduan bangunan Timur Tengah, India, spanyol dan China.
                 Tampak terlihat di perkarangan mesjid banyaknya pohon-pohon kelapa dan pohon waru serta  kesekretariatan mesjid berbentuk rumah Melayu. Bukan hanya itu, kuburan-kuburan seperti kesultanan, panglima dan permaisuri kesultanan menjadi ciri khas Melyu Deli, di setiap masjid ada kubaran keluarga kesultanan tersebut. Di pekarangan ini, dapat terlihat kuba besar yang berwarna hitam yang mencerminkan desain dari India serta puluhan tiang –tiang masjid yang berdiri kokoh.
               
                Masjid Al Osmani atau masjid Labuhan terletak di jalan Yos Sudarso Km 18 kelurahan Pekan Labuhan, Kecamatan Medan Labuhan yang berjarak dari kota Medan sekitar 19 km dari pusat kota Medan. Didirikan pada masa kerajaan Deli tahun 1854 oleh raja Deli yang ke tujuh yang bergelar Sultan Osman Perkasa Alam.
                  Ahmad Fahruni Sag  perawakan melayu, berjanggut serta memakai bepakaian teluk belanga crime sebagai ketua badan kenaziran masjid (bkm) mengatakan bangunan ini dahulunya hanya 16 x 16 meter, sekarang diperluas menjadi 26 x 26 meter di karenakan sudah bertambah banyak masyarakat islam di daerah sekitar masjid, bangunan ini dibuat oleh arsitek Jerman GD Langereis dan Belanda.
                Masjid Al- Osmani di katagorikan sebagai benda cagar budaya (bcd) bersifat bangunan pribadatan yang harus dilindungi sesuai Undang –Undang cagar budaya tahun 1992 karena usaianya lebih dari 50 tahun dan masjid ini mempunyai ke unikan tersendiri selain masjid Raya Al – Mashun di pusat kota Medan dan Mesjid Azizi di langkat. Masjid ini merupakanan sejarah Sumatera Utara yang belum banyak di ketahui warga kota Medan.
                Keistimewaan dan keindahan bukan saja dari sejarah akan tetapi dapat dilihat dari segi arsitektur, masjid yang sekilas mirip dengan Cardova di Spanyol sehingga menjadi  tempat para turis yang menarik untuk dilihat. Bangunan ini memiliki fitur arsitektur dan ornament yang cukup kaya.
                Ahmad Fahruni mengatakan dahulunya bahan utama bangunan terdiri dari kayu pilihan Sultan pada masa itu yang di bawa dari Kalimantan, ukiran pintu berdisain dari China yang bekerjasama dengan Cong Afi, relif dari Eropa, kaligrafi dari Arab serta ada sentuhan warna kuning dan hijau yang mendominasi bangunan mesjid melambangkan kekhasan Suku Melayu.
                “Alhamdulillah, dari tahun ke tahun bantuan pemerintah atas perhatian mereka sangat baik, dana hiba yang di bantu seperti cat dan bahan-bahan bangunan masjid lainya, serta apabila pada bulan puasa Kami meminta kepada masyarakat setempat ikut berpartisipasi untuk memberi bantuan kepada masjid Al-Osmani” ujar yang berlogat Melayu ini.
                Ahmad Fahruni mengatakan walaupun banyak di bantuan Pemerintah akan tetapi masih banyaknya masyarakat Kota Medan hanya mengetahui masjid yang paling tua adalah Mesjid Raya Al Mashun yang terdapat di pusat kota Medan, akan tetapi mereka tidak mengetahui bangunan yang paling pertama dan tertua yaitu Mesjid AL onsmani.          
                Ahmad Fahruni berharap pemerintah lebih mempromosikan, serta harus adanya perhatian dari pihak -pihak masyarakat kota, terlihat sedikitnya jamaah yang shalat kesehari –harian walaupun ini jauh dari pusat kota, akan tetapi masjid ini saksi sejarah dan peninggalan kota kesultanan Melayu Deli yang terdapat  di kota Mendan.
                Hal senda yang di ungkapkan oleh Putra Kurniawan sebagai Jaka dara Kota Medan serta masyarakat masjid Al osmani (27/10) mengatakan kami sering bermain –main di masjid  apa lagi pada saat bulan puasa tiba. Dia mengharapkan masjid Al Osmani ini harus lebih di promosikan lagi untuk menjadi salah satu objek wisata  karena masih banyak orang yang belum mengetahui dan juga masjid ini pertam dan tertua  serta salah satu sejarah daerah kota Medan . (M SAHBAINY NST dan IKHSANUDIN NASUTION )

1 komentar:

  1. ralat
    Putra Kurniawan adalah
    sbg Finalis dan salah satu Duta Pariwisata Kota Medan.!!

    BalasHapus